TASIKMALAYA|PELITA ONLINE|– Upaya antisipasi kesulitan air untuk keperluan rumah tangga hingga pertanian, sejumlah warga perkampungan dari beberapa desa dalam wilayah Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya secara bersama-sama membuat saluran untuk mendapatkan pemenuhan air, setelah saluran irigasi lama hasil buatan pemerintah banyak tersumbat oleh bahan material berupa tanah, batu dan sampah.
Sebagaimana diketahui, kesulitan akan air untuk berbagai macam keperluan tersebut cukup dirasahkan oleh penduduk yang bermukim di Kedusunan Mayangcinde, Cicurug, Tajurpanjang, wilayah Desa Sirnaraja yang sumber airnya berasal dari blok Pangguyanganbadak yang berada di areal pegunungan yang berada ditepian wilayah barat Kec.Cigalontang.
Lalu kemudian melewati Gunung Karapyak yang masih rentetan anak gunung di kawasan kaki Gunung Galunggung. Yang mana sebagain air-nya juga mengalir terbagi ke Perkampungan Desa Tenjonagara, Lengkongjaya dan Desa Jayapura.
Dikutip dari koran lokal Tasikplus, Endang salah seorang pengurus Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) “Mitra Bangsa” blok Cicurug Desa Sirnaraja mengatakan, akibat bentang panjang saluran irigasi yang mencapai kurang-lebih 4 km dari hulu ke hilir masih dalam kondisi yang alami, maka keberadaan tebing saluran irigasi gampang sekali mengalami erosi yang pada akhirnya memenuhi dan menyumbat aliran lajunya air, ujar tokoh petani yang akrab dipanggil, Mang Ole itu.
Hal senada diungkapkan juga oleh Dayat, salah seorang warga Kedusunan Mayangcinde. Sepengamatannya, dalam rentang 20 tahun terakhir, kondisi kelestarian lingkungan perlahan berubah. Seperti dengan pepohonan yang makin berkurang. Struktur tanah yang labil. Gampang terjadi pergeseran tanah.
Satu potret ironi yang mengganggu struktur lingkungan lainnya, ada areal pegunungan yang semula digarap perusahaan perkebunan dengan pepohonan yang menghijau, dalam beberapa tahun terakhir seperti terlantar. Lalu, banyak warga yang merambah kawasannya.
Secara bersamaan, keduanya baik Endang maupun Dayat menegaskan, sejak dulu saluran irigasi dalam kondisi seadanya. Jarang ada pemeliharaan, perbaikan terlebih pembangunan baik oleh Pemerintah Desa, Kabupaten, Provinsi maupun Pusat, jelasnya.
Demikian juga dengan harapan keduanya, atas dasar mendapatkan suplay air sesuai kebutuhan, maka kami atas nama warga masyarakat berharap pada pemerintah untuk dapat memperhatikan kondisi saluran irigasi agar sesuai fungainya sebelum perlahan mengancam dan memunculkan dampak. Terlebih dengan urusan suplai air yang dapat mengganggu situasi sosial.
Buktinya, inisiatip warga satu kampung membuat saluran baru berbuntut nyaris menimbulkan keributan antar kampung. Namun beruntung pula dapat tercegah oleh kesigapan pengurus lingkungan atau kepala dusun yang segera melakukan upaya peredaman menyelesaikan selisi paham terkait lahan untuk saluran baru tersebut.|TOM|





