TASIKMALAYA|PELITA ONLINE|Kelahiran Kota Tasik 53 tahun lalu, sosok Prof Dr Ana Hadiana M.Eng.Sc.
tampaknya bakal kembali sering berada di daerah kelahirannya Tasikmalaya. Setelah berpuluh tahun ini mengemban tugas melakukan berbagai riset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Dijumpai di ruang Lobby kantor Universitas Perjuangan (Unper) Kota Tasikmalaya, Kamis 2 Desember 2021 kemarin bertepatan dengan dikukuhkan dirinya selaku dekan fakultas teknik di Unper, sosok yang memiliki basic Teknik Informatika bertutur banyak cerita perjuangannya selama menamatkan masa studinya di Negeri Sakura Jepang.
Hanya sampai jenjang SMA saya bersekolah di Tanah Air, selanjutnya meraih kesempatan studi program pemerintah sejak strata S1 sampai doktor di Jepang, ucap bapak yang memiliki tiga orang anak ini.
“Saya asli Tasik, tepatnya di kawasan Pancasila. Kemudian pindah ke Mitra Batik. Sampai jenjang SMP saya sekolah di Tasik. Lalu melanjutkan sekolah jenjang SMA dan tinggal di Bandung,” katanya menjawab pertanyaan.
Selanjutnya, selepas SMA saya diterima jadi CPNS di LIPI. Kemudian dapat beasiswa meneruskan kuliah ke Jepang. Kala itu, pada tahun 1987, di masa pemerintahan Habibie, gencar ditawarkan kesempatan meneruskan studi ke luar negeri bagi tamatan SMA, akhirnya saya mendapat kesempatan tersebut.
Alhamdulillah, selama belajar di Jepang saya dapat menyelesaikan S1, S2, S3 di Jepang. Kemudian, ditengah kegiatan penelitian sekitar 12 tahun tinggal di Jepang. Akhirnya saya harus pulang kandang, lantaran istri tercinta enggan untuk tinggal di negara super maju tersebut, ujar Prof muda ini sedikit canda.
Saya mengambil bidang ilmu informatika lantatan tidak ada pilihan lain yang ditawarkan saat itu. Akhirnya harus memilih
pada pilihan ke desain komputer. Tapi ketika datang ke Indonesia ternyata tidak ada laboraturiumnya, terpaksa putar haluan ke software. Persisnya, software engineering, papar Prof Ana.
Disinggung sejak kapan profesor dapat informasi dan kemudian akhirnya mengisi jabatan dekan Fakultas Teknik di Unper. Menurutnya, sekitar enam bulan lalu dari sebuah komunikasi antar sesama dosen. Karena saya juga mengajar di tiga perguruan tinggi di Bandung mengajar S2 jadi secara kebetulan ada mahasiswa saya yang mengenalkan. Karena dia juga selaku dosen di Unper ini, begitulah kata jawab Prof Ana.
Sebagai seorang pakar di LIPI, ketika tawaran itu ada langsung menerimanya. Meski diakuinya tidak sedikit tawaran dari Universitas di luar Tasikmalaya banyak meminangnya.
“Kalau ini kan yang mintanya kan orang Tasik, masa saya dibesarkan di Tasik, lahir di Tasik, saya tolak. Kalau yang menawarkannya luar Tasik, seperti dulu juga ada asal Karawang, enggak lah. Kalau Tasik mah enggak bisa tolak,” ujarnya sembari tersenyum.
Kendatipun penawaran penghargaannya lebih besar, tetap saya tidak mau. Kalau soal uang, alhamdulillah saya sudah merasa cukup. Anak-anak sudah pada tamat kuliah. Di sini soal kecintaan dan soal kepedulian. Ingin mengabdikan diri sebagaimana orang Tasik yang memilki sipat “lemah cai”, tuturnya.
Dikatakannya, sebelumnya pun pernah juga saya isi kesempatan di tempat yang berkenaan dengan soal agama yang dianut. Sehingga saya pernah ngajar di UIN. Tapi juga maksdunya bukan saya ini tipe orang intoleran, tambah Prof Ana.
Disinggung tentang konsep yang sudah dipersiapkan untuk Fakultak Teknik Unper. Dikatakannya, selama pihak (Unper) memberi kesempatan akan saya jalankan. Karena kebijakan setiap kampus berbeda-beda. Ada yang sekadar jadi simbol saja jabatan itu. Ada juga yang memang memberi keleluasaan. Kita tidak bisa memaksakan. Jika saya coba “macam-macam” debut, tapi tak diberi kesempatan, tentunya tidak bisa juga kan? Pastinya disesuaikan dengan kondisi yang ada lah, tegas Prof Ana.
Mengalami cukup lama tinggal di negara maju, Profesor Ana Hadina tentu memiliki banyak catatan-catatan penting dalam dunia pendidikan. Seperti halnya dalam pengakuannya yang mengatakan, hampir di semua perguruan tinggi kita ini belum ada totalitas untuk penelitian.
Di kita banyak kampus dengan penelitian yang terbilang setengah-setengah, sehingga jauh deda dengan negara lain seperti di Jepang. Penelitian disana itu hampir 24 jam, katanya.
“Kuliah boleh dibatasi, tapi penelitian tak boleh dibatasi. Sampai mahasiswa-nya sendiri pun merasa bahwa tempat tinggalnya itu adalah kampus,” tutur Prof Ana.
Jadi kesimoulannya, kapan saja kita datang ke lab. profesornya ada di tempat. Sementara di Kita masih dibatasi-batasi waktu. Hingga bagaimana mungkin sebuah penelitian dibatasi yang harusnya semua kampus pernah, semua berbasis kinerja.
Saya berharap, disini dosen harus mempunyai keahlian, tentu tidak dengan ahli segala rupa padahal bukan bidangnya. Saya ingin fokus ke situ dulu, makanya ini harus saya mulai dengan adanya penjajakan. Tentu harus ditunjang dengan fasiltas Lab yang mesti ada.
Sehingga nanti Mahasiswa diarahkan ke lab dipimpin oleh orang yang pakar walaupun bukan profesor. Kalau di luar negeri lab itu dibimbing langsung profesor, di sini tentu belum, ungkapnya.
Dengan adanya laboraturium, mudah-mudahan mahasiswa kita akan mendapatkan ilmu yang benar-benar spesifik. Karena memang ke depan harus punya keahlian. Jika informatika hanya kulitnya saja yang susah, ujarnya mengakhiri perbincangan. |TOM|.










