TASIKMALAYA|PELITA ONLINE|-Angka penderita stunting di Indonesia, masih terbilang cukup tinggi. Masih di atas ambang yang ditentukan WHO. Pemerintah sejak beberapa tahun terakhir, menggenjot ikhtiar guna menekan potensi kenaikan penderita ini. Termasuk program pencegahan secara konvergensi, melibatkan dukungan stakeholders, sejak pusat hingga daerah di tahun-tahun mendatang.
Menunjukkan kepedulian sekaligus turut merealisasikan keputusan Tanwir Aisyiyah ke II di Yogyakarta tahun 2019, dalam pencegahan stunting untuk peningkatan kualitas SDM, Aisyiyah Ranting Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (Umtas), baru-baru ini melancarkan program pengabdian kepada masyarakat (PKM) bertajuk promosi kesehatan dalam pencegahan stunting.
Pelaksanaan PKM itu berlangsung Kamis akhir November lalu. Bekerja sama dengan UPTD Puskesmas Tamansari, Kota Tasikmalaya. Melibatkan tim dosen terdiri, Neni Nuraeni M.Kep Ns Sp.Kep Mat, dari Prodi Profesi Ners FIKes, dan Gugun Gundara M.Eng (Prodi Teknik Mesin Fakultas Teknik), serta mahasiswa Profesi Ners, S1 Keperawatan, dan Teknik Mesin.
Kegiatan tersebut didanai Umtas dan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiya. Bertempat di kantor Kelurahan Setiawargi. Menurut Neni, sasaran kegiatan PKM meliputi para kader Posyandu, kalangan remaja, ibu hamil, dan masyarakat umum. Materi bahasan edukasi mengemuka terfokus ke PHBS keluarga, pencegahan stunting pada ibu hamil dan remaja.
Menurut Neni yang juga menjadi pemateri edukasi, stunting dialami penderitanya bertinggi tubuh lebih pendek dalam ukuran orang lain seusianya. Pemicunya masalah kekurangan gizi. Turut hadir dalam edukasi, Ketua LPPM Umtas, Dr Mujiarto MT, dan petugas penanggung jawab Program Gizi PKM Tamansari, Yayu Sri Mulyati S.Gz.
Pendekatan edukasi selain diisi diskusi, selebihnya dengan praktik. Disoroti pula ikhwal menjaga kebersihan tangan dengan enam langkah dalam upaya cegah penyakit dan jaga kesehatan di masa pandemi covid-19. Pada sesi lain bahasan pencegahan stunting remaja, bertempat di Posyandu Kelurahan Setiamulya. Diikuti mereka yang berusia 13- 18 tahun, berjumlah 23 orang.
//Masih fluktuatif//
Melalui edukasi PHBS ini, beber Neni, merupakan upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau, dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih, sehat, serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. Ia minta pun segenap peserta, dapat menginformasikan kembali bahasan-bahasan dalam kegiatan pada masyarakat lainnya.
Jadi perhatian penyelenggara, kondisi penderita stunting di Indonesia masih fluktuatif. Prevalensinya pada tahun 2019 mencapai 27,67% dibandingkan tahun 2018 yaitu 30,8 %. Di Jawa Barat penderitanya berjumlah 29,6% dengan sekira 9,8% berstatus gizi sangat pendek dan 19,8% pendek.
Sedangkan catatannya dari data di lingkup Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, pada 2019 penderitanya dalam jumlah penduduk kota ini sebanyak 5.373/49.089 atau 10,95%. Malah, pada Januari hingga September 2020, jumlahnya naik menjadi 7.120/38.912 atau diangka 18.37%.|TOM|





