BANDUNG,|PELITA ONLINE|– Perlu diingat oleh guru dan tenaga kependidikan lainnya bahwa benar – benar wajib menguasai dan melaksanakan Ilmu pedagogi, didaktik, metodologi , strategi pembelajaran, penguasaan materi/bahan ajar , sarana prasarana pembelajaran, memperkecil tingkat noice and baise yang mengganggu
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan Metode Pembelajaran. Sebab faktor- faktor itu bercorellasi dengan interest, aptitude, competency, experience and character siswa dan dibungkus dengan ” Knowledge is power but charakter is more”.
Mendidik dan mengajarkan akhlak – termasuk materi/bahan ajar – kepada siswa diantaranya dengan kegiatan : Silaturahim (silaturahmi), Persudaraan (ukhuwah),Persamasn derajat (Al – Musawah), Adail (Ad’il), Baik sangka (khusnuzhon), Rendah hati.Tepat janji (Al – wafa), Lapang dada (Insyirah), Dapat dipercaya ( amanah) Perwira (Iffah atau Ta’afful)
Hemaf (Qawamiyyah) atau tidak boros ( Israf ) Dermawan (Al – munfikun)
Dari faktor -faktor di atas sudah pasti ada yang lebih penting yaitu faktor keteladanan dan contoh dari guru, orang tua dan Stackholders lainya.Sebab mendidik dan mengajar itu unik, global , universal , ada visi, misi dan bertujuan. Kalau akhlak itukan sifatnya normatif.
Berkaitan dengan norma , value, etika, tatakrama, sopan santun, budi pekerti dsbnya .Misalkan biasanya guru dipuji kalau berhasil dan biasanya guru dicacimaki kalau tidak berhasil mendidik baik ilmu maupun akhlak.Pepatah urang Sunda “guru teh digugu jeung di tiru”.Di gugu ucapan dan nasehatnya, ditiru akhlak , prilaku dan perbuatannya ,
Sedangkan menurut pepatah orang Jawa ” guru, ratu wong atuane karo ” yang menunjukan tingkat ke satu betapa pentingnya sosok guru tentang fungsi dan peranan guru atau tupoksi guru.tingkatan yang ke dua Ratu atau Pemimpin dan tingkatan yang ketiga adalah Orang Tua. Terbukti sosok guru dinomor satukan posisinya yang paling penting dan paling berpengaruh terhadap keberhasilan para siswa. Meskipun begitu adanya , saya akui ” bahwa guru bukan orang yang hebat.Tapi menghasilksn orang – orang hebat “.
Dalam Al Quran, Alloh SWT berfirman “alladiina a’llama bilkolam”.Artinya Alloh mengajar manusia dengan pena atau qalam” (QS.Al’Alaq, 96:4).
Maksudnya agar manusia memiliki pendidikan, ilmu dan keceradasan.Sehingga akalnya berkembang, pikirannya sehat, hatinya baik dan akhlaknya mulia.
” Laa tuharrik bihi lisaanaka lita’jala bih ” Artinya :
” Janganlah engkau, Muhammad gerakan lidahmu untuk membaca Al Quran karerna hendak cepat – cepat menguasainya/ menghafalkannya “.(QS.75 : 16).Dari Anas ra dari Rasulullah SAW , berkata ” Nabi
Muhammad SAW biasa mengulang – ngulang ucapannya tiga (3) kali supaya dapat dipahami (pendengarannya)”.(HR.Tirmidzi dan Hakim).
Mendidik dan mengajar secara implisit juga mengembangkan dan memajukan civillization, fraternity dan mengaflikasikan charitable dalam hidup dan kehidupan.Sehingga hidup lebih bermakna dan bermanfaat untuk orang tua, diri sendiri, keluarga, bangsa dan negara.Abi Sufyan bin Uyainah menasehati kita dengan ucapannya” manusia yang bodoh adalah manusia yang membiarkan kebodohannya, manusia yang paling cerdas /pandai adalah manusia yang mengamalkan ilmunya.
Dan manusia yang paling utama adalah manusia yang takut kepada Alloh SWT “.
Barangkalih kita dapat mengambil manfaat dari orang2 Barat jaman ” baheula” diantaranya Albert Enstein tentang perjalanan proses pembelajaran (hidup) yaitu ” belajar dari masa lalu, hidup untuk hari ini, berharap untuk hari esok yang penting kita tidak pernah berhenti untuk bertanya “.Pendidikan filosofinya adalah ada dan dimana – mana melintas generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman.
Mendidik dan mengajar dengan hati, ilmu ,logika, relegi dan semua bahagia merupakan rutinitas keseharian dari guru dalam melaksanakan tugasnya.
—–
Sumber
1. Buku Pendidikan Agama Islam
2. UU Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005
3. Perpustakaan Keluarga








