TASIKMALAYA|PELITA ONLINE,| Garapan pekerjaan fisik break water (pemecah ombak) di kawasan Pantai Pangandaran, Jawa Barat, tampak tak bakal rampung sesuai masa kontrak pengerjaan. Penempatan balok cetakan konstruksi break water, masih belum usai. Bahkan seperti tertunda. Kondisi tersebut di masa pengerjaan H-7, sebelum limit masa kontrak pada 18 Oktober ini.
Pejabat berwenang dalam pembangunan ini membenarkan kemungkinan terlambatnya penuntasan pekerjaan. Hal itu, sebutnya, lantaran faktor alam yang tak bisa dielak. “Perhitungan awal mengenai masa pengerjaan break water ini rampung bahkan jauh sebelum waktu masa kontrak selesai. Namun lantaran faktor alam, ya akhirnya kita ajukan ademdum atau perpanjangan waktu sekarang,” ujar Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Heri Pracipno, Senin (11/10/2021).
Heri memberi keterangan mewakili kepala UPTD Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Wilayah Sungai Ciwulan-Cilaki dan PPK Darmadi, Dalam pekerjaan pemecah ombak berlokasi di pantai barat, Pangandaran itu, ia sebagai pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK). Pembangunan konstruksi pemecah ombak sepanjang 132 meter. Keterlambatan penyelesaiannya, klaim Heri, lantaran cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem di laut membuat gelombang tinggi.
Di satu perjalanan tongkang pengangkut material dari dermaga Bojongsalawe menuju titik dermaga, tiba-tiba terbalik dengan crain di atasnya. Crain yang terbalik ke laut, menunda aktivitas angkut material. Perlu pengangkatan dan penggantinya. Kemudian BMKG merekomendasikan untuk menunda pekerjaan seiring situasi.
Progres pekerjaan sudah mencapai lebih 80,82%. “Memang secara fisik sudah siap, tapi kalau dipaksakan bisa berdampak buruk. Dan kita jelas menghindari hal seperti itu,” kata Heri sembari mencontohkan dua item teknis pekerjaan yang tertahan yakni, ajack dan armor.
Pernyataan Heri, sepanjang garap pekerjaan ini rekanan pelaksana mendapat rekomendasi penggunaan alat dari LAPI ITB, dan dengan BMKG untuk mendapat informasi cuaca di laut.
Pada konstruksi pemecah gelombang ini nantinya dipasang di titik depan berupa ajack bersudut 6 yang kemudian di belakangnya dibuat balok-balok beton berbentuk kubus berukuran 1 x 1 yang akan disusun, dengan bobot 9,3 ton/buah, terang Heri.
Heri menambahkan, bahwa pekerjaan proyek konstruksi di laut merupakan proyek yang pengerjaannya cukup kompleks. Terdapat begitu banyak pekerjaan yang harus disiasati, baik dalam sisi waktu, hari dan cuaca.
Dengan tingkat kesulitan tiap tahap pekerjaannya terbilang tinggi, terutama terkait cuaca ekstrim tak pelak pihaknya hampir setiap saat berkoordinasi dengan pihak BMKG, papar Heri.
Heri sempat menekankan dan mengimbau, dengan perpanjangan waktu yang akhirnya diberikan Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jabar kepada penyedia jasa yakni PT. Orkalindo Elang Tama Mandiri, itu dapat dimaksimalkan pengerjaan.
Dirinya juga sudah mendengar dengan kondisi crain yang akan didatangkan dari Batam. Perpanjangan waktu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Mengingat, pekerjaan fisik yang tinggal sedikit lagi.
“Kita semua menghendaki pelaksanaan pembangunan itu dilaksanakan tepat waktu, dan memang seharusnya tuntas kalau tidak ada insiden cuaca ekstrim” imbuh Heri berulang. (Tom)










