Dihadiri Sekda Cianjur  Rembug Stunting Data Masih Belum Sama

CIANJUR, (Pelita Online). Sekertaris Daerah (Sekda) Cianjur,  Cecep S. Alamsyah menghadiri  Rembug Stunting yang diadakan di Gedung Vedca, Kamis, (30/06/2022).

Dalam upaya meningkatkan dan kualitas ibu dan anak, dilakukan dengan pendekatan Continuum of care the life cycle dan continuum of care of pathway, yang menekankan bahwa upaya promotif dan preventif sama pentingnya dengan upaya kuratif dan rehabilitatif pada tiap siklus kehidupan dan pada tiap level pelayanan

Sementara itu, data angka prevalensi kasus stunting di Kabupaten Cianjur,  masih belum sama karena ada beberapa versi. Kondisi itu membuat adanya kesenjangan data sehingga perlu dibenahi.

Sekretaris Daerah Kabupaten Cianjur, Cecep Alamsyah, tak memungkiri penanganan stunting di Kabupaten Cianjur dihadapkan dengan terjadinya permasalahan data. Tentu, sebut Cecep, perlu ada perbaikan terhadap data tersebut. “Antara versi fasilitas dan komunitas itu terjadi kesenjangan hampir 29%. Nanti kita akan mencari formulasi data mana yang kira-kira paling mendekati kenyataan di lapangan,” kata Sekda.

Menurutnya,  Pemkab Cianjur lebih condong menggunakan data hasil survei Riset Kesehatan Daerah (Riskesdas), pasalnya pendataan angka prevalensi kasus stunting menggunakan metodologi-metodologi yang dianggap mendekati keadaan sesungguhnya di lapangan.

Dikemukakan, kalau survei fasilitas itu ada unsur subjektivitas dari metodologi pengumpulan datanya. Sehingga terjadi kesenjangan data.

“Nah sekarang kita akan memperbaiki data yang dilakukan fasilitas untuk mengetahui potensi-potensi erornya atau biasnya. Nanti kita akan verifikasi lagi,” ungkapnya.

Dijelaskan, data valid sangat penting karena menentukan lokasi yang akan diintervensi menangani stunting. Sebab, ketidakakuratan data akan membuat upaya intervensi penanganan stunting sia-sia.

“Jadi tidak tepat sasaran. Bisa buang sumber daya termasuk biaya,” katanya.

Karenanya, butuh peran serta semua perangkat daerah memperbaiki data akurat pemetaan angka kasus stunting. Sehingga data itu akan menjadi dasar bagi Pemkab Cianjur menentukan program penanganannya.

Termasuk peran TPK (tim pendamping keluarga) karena sangat strategis. Mereka tidak hanya mendampingi, tapi juga harus bisa berkontribusi terhadap perbaikan data yang akan mereprestasikan kondisi sesungguhnya di lapangan.

Pada prinsipnya, kata Sekda, data prevalensi kasus stunting tetap berpedoman hasil survei dari pemerintah pusat. Namun tentu pemerintah daerah pun harus melakukan verifikasi dan validasi data agar kondisinya sesuai kenyataan di lapangan.

Dikemukakan, nantinya akan berkaitan dengan program penangananya. Leading sector penanganan stunting itu DP2KBP3A

dan Dinas Kesehatan. Perangkat daerah lain sebagai penunjang seperti sektor infrastruktur, pendidikan, pertanian, dan lainnya. (Man Suparman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *