SEJAK diberitakan hilang terbawa arus air sungai Aare di Bern Negara Swiss, Emmeril Kahn Mumtadz atau sapaan kesayangan nya “Eril”, menjadi berita yang sangat mengharukan bagi penulis.
Hilangnya Eril – begitu dipanggil- sepanjang sungai menjadi sasaran pencarian dan al hasil belum bisa ditemukan. Sampai akhirnya keluarga dari bapak Ridwal kamil atau kang emil dan ibu attalia atau ibu cinta, rela mengikhlaskan sang buah hati tercinta sehingga dinyatakan meninggal.
Dapat dirasakan penulis, kesedihan dari bapak dan ibu yang menjadi pemimpin daerah kami, Gubernur Jawa barat. Betapa hancur hati seorang ibu dan bapak manakala ditinggalkan oleh sang penyemangat hidup yang menjadi kebanggaan orang tuanya. Namun demikian penulis pun melihat ketegaran dari kedua nya untuk menerima kenyataan yang mungkin dirasakan bagaikan mimpi.
Sampai hari ke-10 (sepuluh) dari hilangnya Eril, dibanyak media menjadi trend topic atas peristiwa yang menimpa keluarga bapak Ridwan kamil. Karangan bunga yang dikirim oleh banyak pihak terlihat berjajar memenuhi pinggir jalan sepanjang Cicendo sampai pendopo yang menjadi rumah dinas dari Gubernur Jawa Barat. Ucapan bela sungkawa membanjiri halaman atau beranda dari berbagai media sosial.
Tatkala melihat, mendengar dan membaca berita tentang ananda Eril, betapa hati ini merasakan sakit. Tak kuasa atas apa yang menimpa keluarga kang Emil. Kesedihan sudah pasti tak dapat dihindari. Begitu besar hati atas keduanya yang mampu merelakan dan mengikhlaskan kehilangan putra tercinta. Hilang benar benar tak melihat kembali setelah berenang dan menyelamatkan sang adik dan teman yang ikut menkmati indahnya air sungai Aare itu. Begitu bertanggungjawabnya sang kakak, ketika melihat bahaya yang meninpa sang adik dan teman.
Bapak dan ibu, penulis hanya mampu berdoa untuk ananda Eril, “Semoga ananda senantiasa dalam kasih sayang dan lindungan dari sang maha kuasa Alloh Swt”. Bila takdir Alloh telah sampai kepada ananda Eril , “INSYA ALLOH dalam keadaan SYAHID”. Untuk bapak dan ibu “Semoga ibu dan bapak kuat menghadapi ujian dan cobaan atas peristiwa ini”. Aamiin ya robbal alamin.
Kang emil dan ibu cinta adalah orang terpilih yang dipilih Alloh sebagai orang yang bisa melewati cobaan dan ujian sebagai orang tua atas kehilangan dari sang buah hati. Hakekatnya Alloh menyayangi keluarga kang emil dan ibu cinta. Kita meyakini akan firman Alloh dari surat Al Baqoroh ayat 26 “Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tapi ia baik bagi mu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, tetapi ia buruk bagi mu. Dan Alloh mengetahui dan kamu tidak mengetahui”.
Keihlasan dari keluaga menunjukan bahwa keluarga adalah muslim yang meyakini atas ketentuan yang Alloh berikan pada hambanya dan mampu menjalani serta melewatinya . ” Alloh tidak akan membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (Q.S. Al Baqoroh 286).
Sejujurnya penulis masih berharap ananda Eril bisa berkumpul kembali dalam keadaan sehat wal afiat, bukan tanpa alasan atas harapan ini, “Bila Alloh menghendaki apa yang tidak mungkin di dunia ini” .Dunia dan segalanya adalah ciptaan nya. Bukan logika tapi keyakinan dan kepercayaan atas kuasa Alloh Swt.
Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa tersebut. Betapa kuasa Alloh amatlah Akbar. Tak seorang pun tahu kapan dan dimana ajal kita sampai pada waktunya. Sakit atau tidak, tak menjadi ukuran seseorang dipanggil untuk menghadap Nya. Tua atau muda pun bukan patokan siapa yang lebih dulu harus meninggalkan dunia yang terkadang dapat menyilaukan mata.
Tulisan dibuat sebagai bentuk belasungkawa dari salah seorang warga Jawa Barat.Walau tidak bisa bertemu secara langsung, doa terbaik untuk bapak dan keluarga.
(Penulis adalah Ai Aneu Masyruroh, Lahir di Cianjur 07 Maret 1973, bertugas di Disdik Jabar Provinsi Jawa Barat Unit Kerja SMK Negeri Pertanian Pembangunan Cianjur. Moto hidup : Harus bersyukur, tetap bersyukur dan selalu bersyukur. Kontak penulis
No telp/wa : 0986 3331 5986 Email aneumasyruroh73@gmail.com
Instagram: aneukust. FB
Aneu M).





