BANDUNG,|Pelita Online|– Sebagai aset bangsa, generasi muda merupakan garda terdepan dalam menopang lajunya pertumbuhan pembangunan. Oleh karena itu, dalam menghadapi permasalahan apapun pemuda tidak boleh loyo. Maka dari itu, kekuatan mental pemuda harus sudah dipersiapakan sejak dini.
Bagaimana pemuda dalam kondisi pandemi saat ini. Penulis mencoba mengembangkan, beberapa tulisan yang di publis oleh saudara kita Syifa Aryati Fauziyyah. S.Psi, tulisan direles di portal beritadisdik.com, Syifa menyampaikan bahwa di masa pandemi seperti ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik tapi juga berdampak pada kesehatan mental.
Di mana kata Syifa, kita harus terbiasa dengan keadaan di rumah saja atau new normal. Pelajar yang biasanya ke sekolah belajar bersama teman, berinteraksi secara langsung dengan teman-teman sebaya dan gurunya, kali ini mereka hanya bisa belajar di rumah melalui jaringan internet.
Menurut dia tentu bukan hal yang mudah bagi pelajar terutama remaja karena sebagian besar remaja membutuhkan kehadiran dan dukungan teman sebaya. Teman sebaya dianggap memiliki banyak kemiripan seperti minat yang sama, sehingga lebih nyaman ketika berkomunikasi.
Belakangan viral di media sosial adanya remaja yang mengakhiri hidupnya karena tidak kuat dengan tekanan tugas yang diberikan guru akibat adanya kegiatan belajar dari rumah. Atau remaja yang mengakhiri hidupnya akibat diputuskan oleh kekasihnya. Dari beberapa kasus yang terjadi belakangan kita dapat melihat betapa pentingnya kesehatan mental terlebih pada masa pandemi seperti sekarang ini.
Masa remaja lebih rentan terkena gangguan mental karena masa remaja merupakan peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan” suatu kondisi di mana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik. (Iswan Darsono)







