Konflik Timur Tengah, Cuaca Ekstrem Dan Ketahanan Pangan: Pertanian Indonesia Harus Berubah

JAKARTA,||PelitaOnline||-Saat ini, tiga krisis besar tengah menghantam sistem pangan dunia secara bersamaan. Konflik di Timur Tengah yang menutup akses jalur distribusi pangan, cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, dan tekanan populasi yang terus bertambah membuat permintaan pangan terus meningkat. Indonesia pun menjadi salah satu negara yang cukup terdampak akibat krisis ini, dengan data dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, sejak desember 2025 lalu saat ini penduduk Indonesia sudah tembus lebih dari 280 juta, sudah tidak bisa tutup mata bahwa semua ini bukan urusan kita sebagai masyarakat Indonesia.

Konflik militer yang terus memanas dimulai dari 28 Februari lalu, antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran sangat berdampak pada ekonomi global dan pasokan pupuk dunia. Posisi Iran yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi salah satu jalur distribusi pupuk membuat ditutupnya jalur tersebut karena konflik ini. Hal ini dapat memicu lonjakan harga pangan dunia akibat terganggunya jalur distribusi pupuk yang merupakan peran penting dalam sistem pangan global.

Dari Wilayah Teluk, ekspor sekitar 30% pupuk urea tidak dapat dikirim saat ini menurut catatan El-Hosy. Karena pasokan terbatas, petani cenderung mengurangi penggunaan pupuk dan enggan melanjutkan bertani ketika naiknya harga pupuk, ini dapat mengganggu produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.

Indonesia memang jauh dari medan perang, tetapi tidak berarti bebas dengan dampaknya. Dari data FAO, Indonesia merupakan negara importir terbesar kedua setelah Mesir. Saat konflik antara Rusia dengan Ukraina pada tahun 2022 lalu, harga gandum global naik sebesar 5,35% dan merupakan kenaikan tertinggi sejak 2008. Karena harga gandum naik, hal ini berdampak pada harga pangan di Indonesia mengingat gandum adalah bahan baku produk pangan seperti mie instan dan terigu, menjadi suatu peringatan untuk Indonesia saat ini. Selama kita masih mengandalkan impor untuk kebutuhan pangan, setiap konflik atau krisis di belahan dunia manapun akan mempengaruhi ketersediaan pangan bangsa kita. Ini bukan soal geopolitik yang semakin memanas dan rumit, tetapi soal harga pangan yang tiba-tiba naik tanpa peringatan.

Di lain sisi, ancaman internal seperti perubahan iklim pun ikut mengancam sistem pangan kita saat ini. Indonesia telah merasakannya secara langsung seperti kekeringan panjang, gagal panen akibat musim yang tidak bisa diprediksi hingga musim hujan yang datang terlambat atau datang terlalu cepat. Hampir seluruh dunia merasakan fenomena ini akibat dampak perubahan iklim. Saat ini pun bukan hanya soal naiknya suhu bumi,  tetapi juga hilangnya stabilitas cuaca yang menjadi fondasi berbagai aktivitas manusia di bumi. Padahal, peradaban manusia selama ribuan tahun berkembang mengandalkan kemampuan membaca alam, seperti petani yang menentukan waktu tanam berdasarkan musim, nelayan membaca perubahan cuaca melalui pengalaman, dan masyarakat yang hidup mengikuti siklus lingkungan yang relatif stabil.

Frekuensi cuaca ekstrem menjadi salah satu dampak dari perubahan iklim. Dalam sektor pertanian, kekeringan dapat mengurangi ketersediaan air untuk irigasi, lalu hujan dengan intensitas tinggi dapat merusak lahan, menghilangkan unsur hara tanah, dan meningkatkan risiko gagal panen bahkan kehilangan seluruh hasil tanam. Karena itu, perubahan iklim yang semakin sulit dikendalikan menjadi salah satu ancaman pertanian Indonesia hingga ketahanan pangan. Dalam konteks ketahanan pangan, konsep ini mencakup akses masyarakat dengan pangan yang aman dan berkelanjutan, bukan hanya tersedianya makanan dalam jumlah yang cukup untuk penduduk Indonesia.

Padahal kita terkenal sebagai negara agraris, tetapi nyatanya kita masih mengimpor kebutuhan pangan dalam jumlah besar. Ini menjadi pertanda bahwa kita belum bisa memberi makan diri sendiri dan tercukupi dalam sektor pangan berkelanjutan. Yang lebih ironis lagi, cara bertani kita sendiri pun ikut memperparah masalah ini.

Penggunaan pupuk kimia berlebihan membuat sektor pertanian menjadi salah satu penyebab emisi gas rumah kaca Indonesia, karena zat kimia yang digunakan dalam proses produksi dapat merusak lapisan ozon. Kita ikut memanaskan bumi, lalu bumi pun membalas menyerang lahan kita.

Dari berbagai krisis ancaman, pertanian kita perlu beralih ke teknologi yang lebih ramah lingkungan, bukan hanya canggih secara digital.

Teknologi ramah lingkungan membantu petani bekerja lebih efisien sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem dan membuat pertanian lebih tangguh terhadap tantangan iklim dan ekonomi, seperti penggunaan panel surya untuk irigasi dan alat pengomposan modern. Cara bertani kita juga perlu berubah secara menyeluruh, misalnya rotasi tanaman terbukti mampu memutus siklus hama dan menjaga kesuburan tanah secara alami tanpa bergantung pada bahan kimia. Selain itu penggunaan pupuk kompos pertanian dapat memulihkan struktur tanah sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca yang selama ini banyak disumbang oleh pupuk kimia.

Praktik seperti rotasi tanaman dan penggunaan pupuk kompos sebenarnya bukan hal baru bagi petani Indonesia. Namun sayangnya, penerapannya masih belum merata, terutama di kalangan petani kecil yang terbatas akses informasi dan modal. Di sinilah pemerintah seharusnya hadir, bukan hanya dengan slogan ketahanan pangan, tetapi dengan program pendampingan yang nyata dan berkelanjutan.

Perubahan iklim yang semakin tidak menentu membuat praktik pertanian ramah lingkungan ini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan. Musim hujan yang tidak pasti, kemarau yang memanjang, hingga hama yang semakin sulit diprediksi adalah tantangan konkret yang dihadapi petani setiap harinya. Pupuk kompos membantu menjaga kelembaban tanah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya terus melonjak, terutama di tengah ketidakstabilan pasar global, salah satunya akibat konflik di Timur Tengah.

Mahasiswa pun punya peran nyata di sini. Riset sederhana tentang efektivitas kompos lokal atau pola rotasi tanaman yang sesuai kondisi daerah bisa menjadi kontribusi berharga. Kolaborasi antara kampus, petani, dan pemerintah dalam skala kecil sekalipun, jika dilakukan serius dan konsisten, mampu menjadi fondasi ketahanan pangan yang jauh lebih kuat dari sekadar impor.

Konflik di Timur Tengah tidak akan selesai dalam waktu dekat. Cuaca ekstrem akan semakin terus terjadi. Penduduk Indonesia akan terus bertambah hingga mendekati 300 juta jiwa pada 2045 mendatang. Semua itu hampir pasti akan terjadi. Yang belum pasti apakah pertanian kita sudah siap untuk menghadapinya.

Padahal, kita sudah punya apa saja yang dibutuhkan, tanah subur, iklim tropis yang bisa panen sepanjang tahun, dan keanekaragaman tanaman pangan yang luar biasa. Selama ini yang kurang bukan kekayaan alam, tapi kemauan untuk berubah sebelum terpaksa. Karena kalau kita terus menunggu, krisis yang akan memaksa kita berubah dan perubahan yang dipaksakan selalu jauh lebih menyakitkan. Pertanian Indonesia harus berubah. Bukan nanti, tapi sekarang.

Penulis :

Navivah Nurcandra, Mahasiswi Program Studi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Refensi :

https://www.google.com/amp/s/www.bbc.com/indonesia/indonesia-60617679.amp

 

https://www.google.com/amp/s/www.cnbcindonesia.com/news/20260613174052-4-742596/perang-as-iran-ancam-pasokan-pupuk-dunia-harga-pangan-bisa-melonjak/amp

 

https://bpm.uma.ac.id/ketika-cuaca-tidak-lagi-dapat-diprediksi-ancaman-perubahan-iklim-terhadap-ketahanan-pangan-dunia/

 

https://agridigi.fkp.unesa.ac.id/post/teknologi-modern-dalam-pertanian-indonesia-dari-drone-hingga-kecerdasan-buatan

 

https://www.sucofindo.co.id/artikel-1/penyebab-utama-emisi-gas-rumah-kaca-dan-solusi-preventifnya/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *