BANDUNG||Pelita Online||,– Warga Kabupaten Bandung, tepatnya di Kecamatan Pangalengan yang rajin mengamati lajunya pelaksanaan proyek pemeliharaan berkala jalan ruas Banjaran-Pangalengan mengaku kecewa dengan metode yang terapkan oleh PT. Purna Graha Abadi.
Metode main hampar hotmix tanpa dilakukan perbaikan (patching) terlebih dahulu tetap salah dalam pengerjaan pemeliharaan berkala. Hal itu menyebabkan, jalan yang dipemelihara secara berkala akan kurang efektif untuk meningkatkan kondisi jalan.
Meski pihak PT. Purna Graha Abadi memberinya perekat terlebih dahulu sebelum menghampar hotmix di badan jalan, tetapi tetap jika kerusakan kecil halnya lobang dan retak tidak diperbaiki terlebih dahulu kualitas jalan yang dipelihara secara berkala tidak akan dapat bertahan dengan umur pakai.
“Saya cukup meragukan cara pengerjaanya seperti itu, karena sepengetahuan saya di titik KM BDG-33 dan KM BDG- 34 ini kondisi jalan di lokasi ini cukup banyak lobang dan retakan,” kata salah seorang warga yang minta untuk tidak disebutkan jati dirinya itu.
Pengamatan ini saya lakukan sudah dari sejak dari pangkal proyek antara tugu perbatasan Kecamatan Cimaung dan Kecamatan Pangalengan atau tepatnya dari KM BDG-29. “Jadi saya tahu betul mulai dari KM BDG-29 sampai sekarang memasuki KM BDG-34 mana kerusakan yang perlu diperbaki (patching) mana yang tidak,” tambah dia yang mengaku hari ini Rabu (11/6/2025) tengah menunggu gelar hotmix di ruas itu.
Lain halnya dengan Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Rakyat Anti Korupsi (LSM-GeRAK) Jabar Wahyudin yang lebih fokus menanggapi kinerja dari pihak Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) maupun Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Pelayanan III maupun dari pihak konsultan pengawas, yang dinilainya tidak konsisten dengan tugasnya masing-masing.
Dia menilai, hal ini dapat terjadi lantaran lemahnya tim pengawasan teknis dari berbagai pihak. Misalnya PPTK dan PPK-nya, dan terlebih dari pihak konsultan pengawas. “Terlebih saya baca yang dilansir media ini kemarin Selasa 10 Juni 2025, itu saya lihat di papan informasi proyek tidak mencantumkan nama konsultan pengawas,” bisa diambil kesimpulan kalau proyek itu tidak ada konsultannya ungkap Wahyudin ketika dihubungi melalui WhastApp Rabu, (11/6/2025) pagi ini.
Selanjutnya Wahyudin mengaku akan turun langsung ke lokasi proyek untuk melakukan kajian lebih dalam, ini perlu saya lakukan untuk jadi bahan laporan saya bertemu Kadis Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Provinsi Jawa Barat Agug Wahyudi yang diakuinya sudah kenal sejak lama, ujarnya singkat saat dibubungi via WashtApp Rabu (11/6) pagi.
Sementara, kali keduanya berita ini dilansir pelitaonline.co.id, Yudi selaku PPK pada UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Pelayanan III yang menangani ruas jalan tersebut belum memberikan tanggapannya, begitu juga dengan Deden selaku dari pihak Penyedia Jasa (PJ) dalam hal ini PT. Purna Graha Abadi belum berhasil tersambung kembali, meski berulangkali dihubungi melalui pesan WhastApp.||tommy riyaldi||




