TASIKMALAYA,|PELITA ONLINE| – Direktur RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya, Dr. Wasisto Hidayat. M.Kes menyinggung kelanjutan program blok gedung masa penerusnya nanti.
Dia berharap program yang bermanfaat seperti blok gedung ini bisa diteruskan oleh penerus berikutnya.
“Apakah ini akan diteruskan? Saya tidak tahu karena siapa bakal penggantinya juga saya belum tahu pasti. Pada penerus berikutnya doakan saja program-program baik untuk diteruskan,” ujar Wasisto disela-sela rehat mengikuti pembinaan dan bimbingan dari tingkat Kementerian Kesahatan di Aula rapat RSUD, Kamis (11/11/2021)
Namun, blok-blok gedung yang terdiri dari lima lantai dalam setiap gedungnya tersebut, bukan berarti saya mampu
dan yang terbaik. Justru kalau mengacu kepada masterplan-nya, kalau tidak salah delapan gedung secara keseluruhannya. Hanya saya sangat berterima kasih dapat menyelesaikan setengahnya.
“Gedung-gedung baru tersebut diantaranya gedung rawat inap Melati untuk kelas III, Gedung Rawat Inap Tulip untuk Operasi bedah, Gedung Mitra Batik untuk VIP dan kelas 1”, Sementara untuk gedung poliklinik tengah dalam proses penyelesaian, tambah Wasisto.
Selama mengemban tugas selaku Direktur RSUD dr Soekardjo, Wasisto sangat mensyukuri bahwa RSUD dr Soekardjo sekarang ini sudah banyak dilengkapi alat-alat medis yang terbilang canggih dikelasnya, karena rumah sakit swasta belum tentu memilikinya, katanya.
Diantaranya, alat pasang ring jantung (stent jantung), magnetic resonance imaging (mri), scan slices hingga extracorporeal shock wave lithotripsy (eswl) sejenis alat penghancur batu ginjal yang mengeluarkan gelombang getar.
Bahkan scan slices yang miliki oleh RSUD bisa dikatakan tercanggih untuk ukuran dalam wilayah rumah sakit, “wasta saja belum memiliki, kita sudah memilikinya. Cuma sudah kita gunakan selama tiga tahun, jadi sekarang agak error”, tp sudah kita kerjasamakan dengan pabrikannya asal Jepang, terang Wasisto.
Namun, dengan megahnya gedung dan lengkapnya peratan yang lengkap, lantas RSUD tidak punya kendala. Justru menurutnya masih ada kendala yang harus dibenahi. Misalnya, di bidang pelayanan yang sudah diprogramkan.
“Contohnya, orang mapan yang berduit, pernah saya sarankan untuk berobat ke RSUD saja, ketimbang di rumah sakit swasta. Karena RSUD disamping sudah cukup alat medis canggih juga sudah dilengkapi dengan fasilitas rawat inap yang layak. Namun jawabnya tidak mau ngantri lama dan bercampur dengan banyak orang kalau di RSUD”, tukas Wasisto.
Terbayang kan, berarti orang-orang yang menengah ke atas itu tidak mau ke RSUD. Padahal alat medis kita lengkap, tambah Wasisto.
Nah, berdasarkan dari situlah kita membuat suatu program pelayanan, tetapi bukan yang peserta BPJS. Melainkan pelayanan eksekutif untuk peserta umum. “Itu diantaranya, yang dinamakan jalur khusus pelayanan eksekutif”, tandas Wasisto.
Oleh karena itulah, harapan saya dalam hitungan hari menjelang masa pensiun yang tersisa sekitar 21 hari lagi, RSUD memiliki pelayanan eksekutif. Disamping penyewaan seperti alat MRI bagi swasta yang memerlukan. Karena alat MRI ini sangat diperlukan oleh pihak rumah sakit swasta. Namun lantaran, pihak rumah sakit swasta tidak memiliki alat maka pasien kerap dirujuk ke rumah sakit swasta di Bandung.
Menyiasati hal seperti itu, kita akan menerapkan kerjasama dengan para dokter yang membuka praktek sore, cuma dokter yang merujuk ke RSUD tersebutlah yang melayani pasien. Program ini cukup mendapat apresiasi dari para dokter, karena hampir rata-rata dokter menyetujuinya.
Disinggung terkait adanya isu hutang yang menumpuk ke pihak penyuplay obat-obatan. Dengan tegas Wasisto membantah “saat ini RSUD tidak memiliki hutang, bahkan bisa dikatakan surplus”, tutup Wasisto. (TOM)





