Proyek Satu Pintu Penataan dan Revitalisasi Situ Gege

TASIKMALAYA|Pelita Online|Secara keseluruhan, kawasan wisata Situ Gede Kota Tasikmalaya ini terdapat dua pintu masuk yang perlu mendapat penataan. Yakni, pintu gerbang yang terdapat dibagian timur dan pintu gerbang di sisi barat.

Akan tetapi, konsep awal Penataan dan Revitalisasi Kawasan Wisata Situ Gede untuk tahun 2022 ini baru dapat satu pintu gerbang saja yang terealisasikan, yaitu pintu gerbang bagian timur. Disamping pembuatan plaza dan gazebo serta penataan lahan parkir.

Sedangkan untuk fasilitas-fasilitas lainnya seperti jogging track akan menyusul di tahun berikutnya yang juga dalam program Unit Management Proyek Strategis (UMPS) Bapeda Provinsi Jabar.

Menyikapi adanya dua pintu masuk, bahkan bisa dikatakan lebih, adalah Asmadi MA, Kepala Perwakilan Komite Penyelamatan Hak-Hak Rakyat Indonesia (KPHRI) Jawa Barat.

Menurutnya itu sah-sah saja, selama Penataan dan Revitalisasi pintu atau gerbang masuk itu aman. Karena itu menyangkut pendapatan, katanya kepada Pelita Online, Kamis (18/8/2022).

Lebih lanjut Asmadi mengatakan, meski proyek Penataan dan Revitalisasi yang merupakan progran UMPS BAPEDA melalui Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jabar itu berada di Kota Tasikmalaya. Tapi bukan berarti kita lepas kontrol sebagai lembaga yang aktif berkecimpung di kemasyarakatan dan sebagai mitra pemerintah dalam penyelamatan hak-hak rakyat.

Setiap perkembangannya pasti ada laporannya. Halnya isu lambatnya pihak CV. Singigi dalam melaksanakan pekerjaannya, termasuk hal-hal di luar teknis pun sudah ada dalam catatan,
ungkap Asmadi yang terbilang konsisten mengawal proyek-proyek provinsi ini.

“Ya, kita sebagai lembaga yang aktif berkecimpung di kemasyarakatan dan sebagai mitra pemerintah dalam penyelamatan hak-hak rakyat, kiranya perlu juga menaruh harapan agar semua yang terlibat dalam program UMPS ini semuanya bekerja profesional”, kata Asmadi.

Terlebih, proyek penataan dan revitalisasi senilai 6,3 miliar itu terbilang cukup rawan teknis konstruksinya. Karena, Penyedia Jasa selain harus ahli konstruksi, juga harus ahli dibidang teknik sipil, lantaran terdapat pekerjaan seperti halnya holding.

Sementara menanggapi adanya isu keterlambatan, data dari Darmadi selaku pejabat pungsional pada UPTD Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Walayah Sungai Ciwulan-Cilaki belum ada istilah keterlambatan pada proyek yang berada dalam pengawasannya tersebut.

Mungkin saat itu, yang dikatakan belum adanya progres tersebut, masih dalam on schedule, katanya pejabat fungsional bidang Sundawapan tersebut Kamis, (18/8/2022).

Menurutnya, data yang masuk ke kita, di Agustus 2022 ini sudah 0,25+% untuk Tembok Penahan Tanah, kalau secara keseluruhannya progres sudah mencapai 7,7+%. Artinya, hasil pekerjaan sesuai dengan jadwal-nya, katanya lagi.

Untuk lebih jelasnya mengenai progres, silahkan saja ke Direksikeet yang ada dilokasi proyek, disana semuanya cukup jelas terpampang, saranya.

Termasuk mengenai hal diluar teknis, semuanya sudah tersampaikan pada kontraktornya, dan semuanya sudah tersalurkan melalui satu pintu penyedia jasa, ujar Darmadi menyebut salah satu organisasi dengan gamblang.|tommy riyaldi|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *