oleh

Merawat Ibu di Usia Senja

Oleh Ulya Kaltsum/Politeknik Negeri Jakarta Prodi Jurnalistik

Bertempat tinggal dekat dengan rumah orang tua menjadi sebuah keputusan yang menyenangkan. Alasannya satu, bisa selalu menengok ibu kapan pun aku mau.

Wanita kelahiran 1941 ini wajahnya sudah penuh dengan keriput dan kantung mata yang turun ke bawah. Melahirkan dua belas anak, kemudian memiliki dua puluh empat cucu, dan memiliki satu cicit. Suaminya sudah lama meninggal, Allah memanggilnya lebih dulu daripada dirinya.

Waktu semakin lama memakan usianya. Langkah kakinya tak selincah dulu, ia membutuhkan waktu beberapa detik untuk satu kali melangkah saja. Hobinya membersihkan taman di depan rumah tak lagi ia lakukan. Ingatannya juga semakin pudar, bahkan pernah bertanya siapa namaku. Ya, ialah ibu yang semakin renta.

Semakin tua semakin banyak penyakit yang menggerogoti tubuh ringkihnya itu. Keadaan semakin parah ketika ia terjatuh di dapur saat sedang mengambil segelas minum. Kaki yang sudah gemetar saat jalan itu tak lagi kuasa menaiki tangga yang sedikit tinggi. Ya, ia terjatuh. Saat itu hanya ada satu orang yang sedang di rumahnya, aku.

Tak kuasa melihat ibu menangis, aku membantunya berdiri. Sambil terus berkata “Ibu, mau ngapain sih? Bisa minta tolong aku kalau mau ambil apa-apa,” kataku. Wajahnya seketika itu padam, mungkin pikirnya aku seperti sedang memarahinya. Semakin renta, perasaannya semakin sensitif. Terkadang harus berpikir ulang untuk mengatakan suatu hal agar tak menyinggung perasaannya.

Semenjak jatuh dari tangga, keadaan menjadi lebih repot. Setelah periksa ke dokter, ternyata ibu harus operasi. Ia mengalami patah tulang di bagian kaki. Saat itu tak semua anaknya datang untuk menemani ibu karena sebagian ada yang tinggal di luar kota. Ada juga yang jauh-jauh pulang ke rumah ibu hanya untuk menemani ibu operasi. Sanak saudara juga banyak berdatangan untuk mendoakan dan melihat kondisinya bagaimana.

Saat pemeriksaan berlanjut, ternyata masalahnya bukan saja ibu jatuh dan harus di operasi di bagian kaki, melainkan jantung ibu juga menjadi taruhan untuk melakukan operasi tersebut. Kata dokter, karena usianya yang sudah tua renta bisa menyebabkan jantungnya terkejut saat operasi berlangsung. Jika saja ibu tidak kuat atau terkejut saat operasi, ibu takkan selamat.

BACA JUGA  Taufik Rahman : Lisan Diibaratkan Pisau, Salah Menggunakannya Akan Melukai Banyak Orang

Akhirnya semua keluarga berunding untuk menemukan solusi yang terbaik untuk ibu. Hasilnya tetap sama, ibu harus tetap di operasi. Kalaupun nanti ada hal yang tidak diinginkan itu semua sudah takdir Allah. Semua yang hadir di ruang tunggu terlihat tak henti mendoakan ibu yang mulai terbius di dalam.

Operasi berjalan selama 5 jam. Dokter keluar dari ruang operasi. Menandakan operasi telah selesai. Terlihat ibu masih menutup mata dan belum sadarkan diri. Kata dokter, operasi berjalan dengan lancar. Mulut kami semua otomatis mengucap syukur, “alhamdulillah.”

Setelah operasi itu, ibu di rawat selama tiga hari di rumah sakit. Sampai akhirnya pulang dan rawat jalan di rumah. Jika di rumah sakit ada suster, di rumah tak ada. Untungnya ada beberapa anaknya yang tinggal berdekatan dengan ibu, salah satunya adalah aku. Tugasku menjadi terbagi setelah ibu sakit dan harus mendapat perawatan intens. Profesi menjadi guru TK sebenarnya tak membutuhkan waktu yang lama sehingga aku bisa segera pulang untuk merawat ibu.

Pagi hari, ibu sudah harus mandi. Ya, saat ini ibu tak lagi mandi di kamar mandi, tetapi di atas kursi roda. Awalnya aneh memandikan ibu, seperti sedang memandikan anak versi besar. Aku harus memastikan ibu sudah wangi dan kenyang dulu, baru aku berangkat mengajar ke sekolah.

Ketika aku pergi mengajar, ibu sendirian. Aku, suami, dan anak-anakku pergi kerja dan sekolah. Terkadang perdebatan antara anak-anak ibu terjadi. Membahas siapa saja yang mau bergantian jaga ibu di rumah. Menemaninya agar tak sendirian dan tak merasa kesepian.

Ada yang hanya bisa di waktu weekend, dan ada juga yang bisa saat sore hari saja. Katanya, memastikan pekerjaan rumahnya selesai lebih dulu. Mau bagaimana lagi, semua sudah memiliki keluarga sendiri. Memastikan anak-anak kami sekolah dengan kenyang juga tanggung jawab kami yang sudah menjadi seorang ibu.

Ibu hanya bisa terbaring di atas kasur. Dengan galon air yang sudah dipindahkan ke sisi kanannya agar ia mudah mengambil minum. Meja makan juga berada di sisinya agar mudah mengambil makanan yang ia inginkan. Terkadang beberapa anaknya datang memberi makanan lalu pulang ke rumahnya. Pernah ketika itu, ibu cerita padaku. Kalau anak ke -6 nya tak pernah bertanya atau sekadar memijit kaki ibunya. Ibu mengatakan ia kesal, kenapa anaknya bersikap seperti itu.

BACA JUGA  Jabar Berupaya Tingkatkan Indeks Pembangunan Pemuda

Mendengarnya bicara seperti itu, aku menyadari suatu hal. Sesibuk apakah aku sampai tak bisa menemani ibu yang sudah merawatku dari kecil? Memang jika anak perempuan tak memiliki tanggung jawab untuk orang tua, tetapi bukankah menjadi sebuah kebaikan besar jika mau merawatnya?

Apa pun nanti imbalannya, hanya satu niatnya. Aku menjaga ibu yang pernah menjaga dan merawatku dulu. Seingatku ibu tak pernah mengeluh saat menjagaku. Ibu juga tak pernah kesal saat anaknya berusia tiga tahun menanyakan hal yang sama berulang-ulang, ibu menjawabnya dengan penuh kesabaran.

Dengan kondisi ibu yang tak bisa berjalan, ia melakukan semua hal di atas kasurnya kecuali mandi. Menggunakan Pampers seperti aku kecil dulu, makan disuapin, menjaga pola makan dengan memilih makanan apa saja yang menyehatkan.

Satu hal yang kupelajari adalah ibu tak pernah mengeluh sejak mengandung sampai melahirkan dan harus merawatku. Raut kebahagiaan selalu ia tampilkan di hadapan anak-anaknya. Menikmati repotnya merawat dua belas anak hingga saat ini menjadi anak-anak yang sukses dan sudah memiliki tanggung jawab masing-masing.

Benar jika satu ibu bisa merawat banyak anak, sedangkan banyak anak belum bisa merawat satu ibu. Kasih sayang ibu tak pernah menuntut balasan. Semua yang ia lakukan menjadi dedikasinya kepada sang Pencipta yang sudah menitipkan anak kepadanya. Ibu, izinkan aku untuk merawatmu kapan pun. Dalam kondisi sakit atau tidak, aku tetap ingin merawatmu. Aku mau sesabar dan seikhlas dirimu. Menikmati cerewetmu di masa tua. Mengabulkan permintaan ambilkan minum dan makan, aku akan menjamu ibu. Doakan aku agar sekuat dan setabah engkau dulu. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed