TASIKMALAYA|Pelita Online| Selamanya, Kelompok Tani yang telah lama berdiri dan resmi teregistrasi di pemerintahan. Baik Pemerintah Daerah Kab/Kota, Provinsi maupun Pusat tidak akan pernah mengerti selama hanya bersipat terima bersih dalam dalam hal mendapat bantuan.
Sudah puluhan tahun ini kelompok tani di daerah kami ini berdiri, dan selama itu pula tidak ada kendala dalam menerima bantuan, kata salah seorang ketua Kelompok Tani dalam wilayah Kota Tasikmalaya kepala Pelita Online, Selasa sore (14/6/2021).
Saya hanya menanda tangan saja, karena proposal sudah dibuatkan oleh PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan), ungkapnya.
Dari sisi peralatan pertanian, seperti halnya mesin traktor dan kelengkapan alat-pertanian lainnya semua sudah ada sampai benih selalu tersedia disaat musim tanam, tambah ketua kelompok tani yang tidak untuk dicatat jati dirinya tersebut.
Lebih lanjut ketua kelompok tani yang berada dalam wilayah Kecamatan Indihiang tersebut mengatakan, semuanya lantaran peranan PPL yang cukup proaktif membuatkan proposal bantuan kepada kelompok tani kami, katanya sedikit memuji.
Jadi buat apa adanya struktur kepengurusan kelompok tani yang handal, kalau semuanya terima bersih. Disamping tidak terdapatnya dalam kelompok tani kami ini yang anggotanya memiliki SDM yang handal, setidaknya handal dalam menjalin hubungan antar sesama dan kecakapan dalam berorganisasi.
Namun, apa yang dikatakan oleh ketua kelompok tani tersebut cukup bertolak belakang dengan yang dikatakan oleh salah seorang buruh tani selaku anggota kelompok tersebut.
Dirinya mengakui, meski sudah ada 2 (dua) bahkan 3 mesin traktor pada kelompoknya, namun dirinya sulit sekali kebagian mesin pembajak lahan tersebut lebih awal. Bahkan kerap tidak kebagian, padahal bukan pinjam cuma-cuma melainkan sewah, keluh buruh tani tersebut.
Demikian juga benih, disaat dibutuhkan mendadak tidak ada. Akhirnya, solusi kebutuhan benih terpaksa beli sendiri.
Dalam pengakuannya, selain sulitnya mesin traktor dan benih, terkadang pupuk subsidi pun sulit didapat pas pada saat dibutuhkan. Dengan demikian untuk menanggulangi pembelian benih, pupuk terpaksa harus kembali kepada tengkulak, ujar buruh tani yang sudah tua rentah tersebut.
Semestinya hal-hal seperti inilah yang harus menjadi perhatian PPL, sehingga kelompok tani yang ada di Kota Tasikmlaya ini dapat sedikit mengurangi bahkan memutus rantai distribusi pemasaran hasil panen kepada tengkulak, ungkap buruh tani tersebut.
Seperti inilah terjadi setiap tahunnya. Buruh tani tidak pernah mendapat penghasilan lebih bahkan cendrung menurun setiap panen, kelompok tani tidak akan pernah maju dan mandiri selama peranan PPL tidak berfungsi sebagai penyuluh.
Bahkan saya sendiri tidak pernah lihat batang hidungnya yang namanya PPL, terlebih mendapat kunjungan dan memberi penyuluhan langsung ke lahan garapan saya, cetus buruh tani tersebut bernada kesal.
Berbeda dengan kelompok Tani Organik Mandiri (TOM), kelompok ini benar-benar mandiri. Disamping mawasdiri lantaran baru setahun berdiri Kota Tasikmalaya, tepatnya di Kelurahan Parakannyasag, Kecamatan Indihiang.
Sebagaimana dikemukan ketua kelompoknya, Tommy Riyaldi, dirinya mengaku tidak mau ribet untuk minta diperhatikan baik oleh PPL maupun oleh pemerintah setempat.
Justru malah sebaliknya, akan terus berinovasi mandiri dibidang pertanian sesuai harapannya akan yang kedepannya akan mengangkat nama wilayah maupun daerah Kota Tasikmalaya dimata daerah lainnya yang ada di Jawa Barat, cetus Tommy yang sekarang tengah berinovasi dibidang pertenakan bebek petelur selain bidang perikanan dan hortikultura yang telah didahulukannya dikembangkannya dalam satu hamparan lahan. (TOM)











Assalamualaikum wr wb.
Mohon maaf sekali, ada masukan …
Sebaiknya kelompok tani jelas nama nya dan
juga nama ketua penting sebutkan, petani penggarap siapa, kemudian kelurahan mana di wilayah kecamatan Indihiang, mudah mudahan supaya ada solusi yang baik …
untuk semua pihak bisa menyelesaikan kendala tepat sasaran …
Terimakasih