TASIKMALAYA|Pelita Online|Belum lama ini, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat disibukan dengan pembangunan Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan di beberapa daerah Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Salah satunya KCD Pendidikan Wilayah XII yang membawahi Kabupaten dan Kota Tasikmalaya.
Tak sedikit para Tenaga Pengajar dibawah KCD Pendidikan Wilayah XII setuju, kemudian mengeluhkan jauhnya rencana Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XII tersebut, dalam perhitungan tak kurang 2 kilometer dari jalan raya provinsi ruas Tasikmalaya-Singaparna.
Beragam keluhan atau tanggapan yang mengemuka dengan klaim kejauhan untuk ukuran sebuah KCD Pendidikan. Mulai dari anggapan mengada-ada, spekulatif hingga adanya kolusi dengan SMAN 10 Kota Tasikmalaya.
Entah siapa yang memaksakannya dilahan itu, pastinya pembangunan gedung KCD Pendidikan Wilayah XII terwujud di Jalan Karikil, Desa Karikil, Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya. Tepatnya, di lahan samping kiri SMAN 10, yang memang sebelumnya milik SMAN 10 Kota Tasikmalaya.
Sampai saat ini tak hanya keberadaan KCD yang menjadi kontra solutif, melainkan setelah terwujudnya pelaksanaan pembangunannya pun masih menuai persoalan yang cukup patal.
Mengapa tidak.? sebagaimana hasil temuan Pelita Online dilapangan, proyek dengan nilai Rp. 5.417.590.449.87
yang dikerjakan oleh CV. Mandiri Jaya Abadi itu harus berurusan dengan waktu, lantaran di picu masalah batu.
Pasalnya, lahan yang sekarang dijadikan KCD Pendidikan Wilayah XII itu lolos tanpa melaui proses uji kelayakan dan perencanaan pematangan lahan.
Terlebih, proyek yang langsung ditangani oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jabar itu tidak dilakukan uji sondir (soil test) atau dengan metode pengujian geolistrik.
Menanggapi hal itu, General Superintendent (GS) CV. Mandiri Jaya Abadi yang menangani pelaksanaan dilapangan mengaku tetap akan bertanggungjawab terkait selesainya pelaksanaan pembangunan.
Hanya saja yang kami harapkan, namanya pengolahan lahan itu tidak layak disatukan pada pembangunan. Masalanya, pengolahan lahan saja memakan waktu dua bulan, ujar GS CV. Mandiri Jaya Abadi kepada Pelita Online, Rabu (24/8/2022) di lokasi proyek.
“Kami akan tetap bertanggung jawab, walaupun kost anggaran yang kami keluarkan jadi lebih besar dari perhitungan awal”, kata GS yang diketahui bernama Pendi tersebut.
Mengangkat batu-batu berukuran besar
yang ada di lahan yang mau dijadikan gedung KCD Pendidikan ini bukanlah perkara mudah. Perlu alat berat juga untuk memindahkannya”, tambah pensiunan dari Dinas Bina Marga Provinsi itu.
Kami pun tidak menduga, kalau dilahan ini di dalamnya mengandung batu-batu besar seukuran sebesar beco (alat berat-red). “Masih untung sampai saat ini pekerjaan memasuki tahap pondasi, meski seharusnya sudah pemasangan genting”, katanya.
Itulah pentingnya Aanwijzing, baik di kantor maupun lapangan, sehingga sebelum pelaksanaan kami sudah banyak menerima penjelasan, ungkap Pendi yang nyentrik dengan rambut gondrongnya itu.
Suatu kebenaran adanya kunjungan liputan Pelita Online ke proyek pembangunan KCD Pendidikan Wilayah XII ini, agar apa yang menjadi kendala dilapangan dapat tersampaikan langsung ke PPK-nya di Bandung, katanya.
Tidak bisa hasil pekerjaan kami dibandingkan dengan pekerjaan KCD Wilayah Sumedang yang lokasinya di Jatinangor, karena permasalahan lahan di Jatinangor tidak sekrusial permasalah lahan yang kami garap ini, terangnya.
Sah-sah saja, kalau mau dilakukan mutual check MC-0 mulai dari awal kegiatan pun, namun seperti inilah kondisi real pekerjaan. Karena kami tidak dilibatkan dalam perencanaan, terlebih uji kelayakan maupun sondir dan geolistrik, jelasnya.
Pastinya, kami sebagai pelaksana dari CV. Mandiri Jaya Abadi tetap akan bertanggungjawab terkait selesainya pembangunan KCD Pendidikan Wilayah XII, dengan harapan tidak mengacu pada waktu yang telah ditentukan. Karena proses pengangkatan batu di lahan pun memakan waktu dua bulan, unkapnya lagi.
Secara terpisah, Kepala Perwakilan Komite Independen Pemantau Penbangunann (KIPP) Jabar Septian mengatakan, pentingnya pengujian sondir adalah salah satu kelayakan penetrasi yang bertujuan untuk mengetahui struktur daya dukung tanah pada setiap lapisannya serta mengetahui isi dalam lapisan tanah.
Yang tak kalah penting lagi, agar dalam pelaksanaan pekerjaan pondasi yang akan digunakan sebagai penyokong kolom bangunan diatasnya memiliki faktor keamanan sebuah bangunan tinggi, terlebih KCD Pendidikan Wilayah XII bangunan dua lantai, berarti pondasinya harus kuat, supaya diatasnya tidak mengalami penurunan atau settlement yang dapat membahayakan struktur bangunan.
Kalaupun ini tidak dilakukan sondir maupun geolistrik lahan ini adalah sebuah kelalaian bagian perencanaan, ujar Septian saat dihubungi melalui cellularnya. |tommy riyaldi|





